Mistik Jawa dan Perspektif Agama dalam Kepemimpinan Nasional

Rivalitas kekuasan tradisional Jawa berkaitan dengan perkembangan mistik dimulai saat kerajaan Mataram, pada masa lampau banyak diwarnai oleh sengketa diantara para pangeran lebih - lebih jika permasalahannya menyangkut suksesi. Walaupun raja sudah nyiapkan penggantinya tetapi sesudah raja tersebut mangkat, pergantian tahta selalu berlangsung tidak mulus bahkan cenderung bermusuhan.

Tidakkah kita melihat dalam pelantikan presiden Barack Obama seluruh pendahulunya hadir dan dalam pidato pertama alinea pertama dia mengucapkan terima kasih kepada pendahulunya. Banyak faktor yang menyebabkan pergantian raja tersebut berlangsung tidak mulus, tetapi faktor yang menonjol adalah kekuasaan dalam pemikiran area cultural khususnya Jawa yang berdasarkan pada konsep Wahyu Cakraningrat atau Wahyu Kraton masih berakar kuat dalam pemikiran mengenai calon yang dapat mengganti kedudukan raja (Darsiti,2000) pada masyarakat Jawa kekuasaan itu berkaitan erat dengan turunnya wahyu.

Kekuatan Pengetahuan Imajiner

Manusia tidak dapat didefinisikan secara sederhana seperti dalam ilmu IPA, bahwa manusia adalah makhluk hidup yang mempunyai bergerak; tumbuh; bernafas dan sebaginya. Lebih dari itu semua manusia mempunyai kelebihan lain dibanding dengan makluk hidup lainnya, karena manusia mempunyai substansi jasmani dan rohani.

Sixth Sense Dalam Perspektif Kebudayaan dan Psikologi

Ilmu pengetahuan selalu mendasarkan diri atau mengembangkan dirinya pada hal-hal yang empiris, bersifat fisik, dapat diukur dan dapat dibuktikan. Kiblat terhadap 'kefisikan' ini sempat mengusai pemikiran ilmuwan-ilmuwan Psikologi hingga beberapa dekade terakhir ini Psikologi tidak dapat menerangkan beberapa fenomena kesadaran yang dialami oleh manusia. Ilmuwan Psikologi tidak lagi hanya tertarik mengenai kesadaran, perilaku semata tapi mulai juga ingin mengetahui sumber ataupun penyebab kesadaran manusia.

Beberapa fenomena kesadaran manusia ataupun perilaku manusia yang tidak dapat diterangkan oleh psikologi positivistik adalah adanya indera ke enam (sixth sense). Fenomena indera ke enam ini dalam psikologi disebut dengan para psychology. Tart (1995) mendefinisikan parapsikologi sebagai ilmu yang mempelajari hal-hal di luar psikologi. Hal-hal yang termasuk dalam parapsikologi adalah telepati (kemampuan untuk komunikasi antar pemikiran individu), clairvoyance (hubungan langsung antara pikiran dan obyek fisik tanpa sentuhan fisik), prekognisi (memprediksikan masa depan), psikokinesis (pengaruh pikiran terhadap benda tanpa sentuhan fisik terhadap benda). Parapsikologi disebut juga dengan ESP (extrasensory perception) atau psi phenomena. Para psikologi ini meskipun ditentang oleh banyak pihak tetap menarik perhatian para ilmuwan. Mereka bahkan mengembangkan metode penelitian tersendiri untuk mempelajari fenomena-fenomena kesadaran ini.

Pendidikan berbasis masyarakat

Manusia lahir di mukia bumi sebagai pribadi yang bersih atau dalam konteks Islam disebut sebagai Fitrah. Bersih atu suci dalam konteks fitrah ini menyentuh aspek jasmani dan rohani, sebagaimana kita tahu bahwa substansi manusia itu terdiri dari jasmani dan rohani. Mengambil makna dari konsep fitrah maka seharusnya manusia tidak ada yang berperangai buruk dan jahat. Manusia seharusnya berperangai baik, penuh sikap dan tindakan yang selalu bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya. Namun kenyataan yang kita lihat tidak selalu begitu. Manusia telah melakoni berbagai peran di muka dunia ini, dari seorang pencuri, koruptor, diktator dan sebagainya. Hal inilah yang kemudian muncul pertanyaan siapakah yang membentuk karakter manusia.

Kalau kita menilik pada sebuah Hadits yang mengatakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi ini dalam keadaan fitrah sampai kemudian orangtuanyalah yang akan menjadikan anak itu seperti apa di kemudian hari, maka kita akan mendapatkan jawaban. Bahwa eksistensi manusia sangat dipengaruhi oleh pendidikan orangtua (baca: masyarakat) . Manusia sebagai diri pribadi dan sekaligus makhluk sosial tentu akan selalu bergumul dan bergaul dengan lngkungan dan masyarakatnya, proses inilah yang akan mengantarkan manusia pada internalisasi nilai.

Oleh karena itu kesadaran individu akan pentingnya pendidikan berbasis mayarakat perlu ditumbuhkan. Perbuatan yang tidak baik seperti melanggar hukum, melanggar norma sosial ataupun melanggar norma agama tidak hanya sekedar berimplikasi pada hukuman maupun dosa si pelaku, tapi lebih dari itu segala perbuatan manusia dalam konteks masyarakat mempunyai korelasi yang signifikan terhadap masyarakat itu sendiri. Individu sebagai bagian dari masyarakat selayaknya mempunyai kesadaran bahwa kehidupannya tidak sekedar untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk masyarakatnya. Dengan pemahaman ini maka akan timbul perhatian dan partisipasi masing-masing individu untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakatnya.